Sedikit saran untuk IDI kami tersayang

Ikatan Dokter IndonesiaBeberapa hari yang lalu, tepatnya 24 Oktober 2011, adalah hari Ikatan Dokter Indonesia. Terus terang waktu itu saya tidak tahu kalau hari tersebut adalah hari IDI. Hanya karena melihat status teman FB yang mengatakan “Selamat hari dokter” makanya saya jadi ingat. Itupun saya anggap itu sebagai hari dokter bukan hari IDI. Baru beberapa saat setelah browsing dan lihat status teman-teman sejawat lainnya baru ‘ngeh’ kalau hari itu adalah hari IDI.

Mungkin banyak teman-teman sejawat lainnya yang seperti saya juga. Mengapa kita melupakan hari yang sangat penting bagi profesi kita? Orang biasanya melupakan sesuatu yang dia anggap tidak penting. Begitukah? Apakah di mata teman-teman sejawat sudah tidak memandang IDI sebagai sesuatu yang penting.

Ikatan Dokter Indonesia. Suatu gabungan kata yang bermakna sangat hebat. Suatu ikatan, suatu kesatuan dari orang-orang yang pintar dan hebat, yang punya logika dan kecerdasan yang secara statistik di atas rata-rata yang memiliki komitmen besar untuk menyehatkan masyarakat Indonesia. Semua dokter pastilah merasa bangga untuk menjadi bagian darinya.

Tapi kenyataan di lapangan, terbukti. Bukan satu-dua saja dokter-dokter yang mengeluhkan perihal IDI. Dalam suatu perjalanan suatu malam ke sebuah tempat makan, di Makasar, seorang teman sejawat mengeluhkan mengapa IDI terkesan mempersulit anggota-anggotanya untuk urusan-urusan tertentu.

Dia saat itu menyesalkan kenapa kita harus  mengikuti suatu seminar yang biayanya cukup mahal di suatu hotel hanya untuk mendapatkan selembar sertifikat sebagai syarat untuk bisa mengurus surat izin praktek di Makassar. Itupun dalam kenyataannya begitu banyak dokter yang mencari pengganti supaya bisa tetap mendapatkan sertifikat acara tersebut. Kan sayang uang Rp 450 ribu telah keluar tapi sertifikat tidak didapatkan. Apakah status ekonomi seluruh dokter disamaratakan? Dianggap bahwa nilai uang sebesar itu kecil bagi seluruh dokter, karena seluruh dokter pasti kaya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Banyak juga yang menganggap  nominal itu besar. Bagi sebagian PNS, nilai itu hampir seperempat gaji mereka.

Begitulah cuplikan curhat seorang teman tentang IDI. Saya yakin pasti banyak yang berpikiran sama dengan dia. Itu hanyalah salah satu contoh yang menggambarkan ketidakharmonisan hubungan antara IDI dan anggota-anggotanya.  Seakan-akan jadi anggota IDI itu adalah suatu keterpaksaan. Kalau tidak jadi anggota IDI, jangan harap bisa kerja untuk jadi dokter praktek di suatu daerah.

Ketidakharmonisan ini sebenarnya patut disayangkan. IDI harusnya menjadi salah satu yang membuat posisi seorang dokter menjadi kuat. Kita bisa  percaya diri, kita bisa stabil dalam praktek karena  kita yakin ada  lembaga yang menaungi kita.

O, iya saya juga mau menceritakan pengalaman pribadi setelah mengurus beberapa administrasi di IDI Makassar. Sudah beberapa kali saya mengurus surat rekomendasi IDI untuk beberapa hal. Saya mendapat kesan bahwa semua urusan administrasi di kantor IDI itu membutuhkan waktu yang cukup lama, minimal seminggu untuk selesai. Tidak boleh kurang dari itu. Padahal kalau dipikir-pikir, untuk sebuah surat rekomendasi izin praktek atau melanjutkan sekolah, yang hanya berupa sebuah surat, tanda tangan pimpinan IDI, dan sebuah stempel, apakah butuh waktu selama itu.

Waktu saya mengurus sebuah surat yang butuh persetujuan IDI, dari awal kita sudah diberi tahu bahwa urusan tersebut akan selesai dalam waktu seminggu. Dan di saat kita menelpon seminggu kemudian, pasti dipertanyakan, kapan berkasnya dimasukkan. Kalau kita bilang baru tiga hari yang lalu, maka pasti disuruh nelpon lagi sampai cukup seminggu.

Jadi disini tampaknya tidak pernah dipakai prinsip, Kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit?. Ini membuat saya teringat sama sosok Dahlan Iskan yang berhasil menghilangkan segala birokrasi yang ada di PLN. Salahkah kita semua jika mengharapkan adanya sosok Dahlan Iskan yang ikut campur di institusi kita ini.

Kita semua, khususnya saya, menyayangi IDI sebagai wadah para dokter. Kami merindukan sentuhan-sentuhan IDI, kelembutan-kelembutan IDI dalam menyentuh para anggotanya. Kami rindu IDI yang mengajari kami dengan peringatan-peringatan supaya tidak salah, dan menegur kami dengan sentilan-sentilan ketika kami salah.

Tidak usahlah capek-capek mengundang kami seminar yang membutuhkan biaya mahal, yang mungkin ada beberapa dari kami yang tidak bisa hadir karena faktor jarak dan finansial. Sosial media seperti facebook atau blog sudah cukup  menjadi jembatan kita. Kami akan merasa diperhatikan kalau IDI secara reguler mungkin menyebarkan update-update terbaru tentang ilmu pengetahuan kedokteran kepada kami lewat sosial media tersebut. Dan banyak cara-cara simple dan mudah yang lainnya yang bisa memperbaiki hubungan kita seperti layaknya bapak dan anak.

Saya sayang sama IDI. Saya peduli sama IDI. Makanya saya memberikan sedikit sumbang saran yang untuk kemajuan IDI. Saya rasa di usianya yang sudah 61 tahun, IDI sudah sangat dewasa untuk tidak bereaksi negatif terhadap rasa kepedulian kami ini.

Selamat hari ulang tahun IDI. We love you!

StatPress

Visits today: 32

3 thoughts on “Sedikit saran untuk IDI kami tersayang

  1. gantung_stetoscope

    usia 61 , kelakuan tua-tua keladi. Perbaiki sistem kedokteran indonesia, kembalilah ke fungsi sebagai organisasi yang memayungi dan memperjuangkan nasib dokter2 di indonesia. Lengserkan kelompok yang memiliki kepentingan pribadi/sekelompok golongan.

    IDI seharusnya jadi pilar bagi dokter2 di indonesia dalam memperjuangkan hak2 dokter indonesia dari sekelompok orang yang meraup keuntungan di atas profesi ini.

    IDI organisasi profesi dokter sudah seyogyanya memperjuangkan nasib dokter sebagai PRAKTISI, bukan sebagai wadah PENGUSAHA/PENGUASA di bidang medis.

    Lama2 kok jadi seperti PSSI yah IDI.

    Jadilah OPOSISI bukan Budak dari penguasa. Benahi struktur internal mu, lakukan gebrakan, tunjukan taring mu. Kita ini jadi bahan tertawaan dokter2 luar negri dengan branded “Dokter murah”.

    Pasien selama ini hanya tau membayar mahal tapi gak pernah tahu nasib dokter indonesia yang sebenarnya. Yang beruntung yah Mr.kapitalis dan sistemnya yang tak kunjung roboh.

    negara lain selalu ada dua pihak yg. berbeda kepentingannya (ada yg. pro dan ada oposisi)yaitu:

    1) organisasi yg. bekerja utk. *kepentingan dokter* yaitu American Medical Association (AMA) di AS, Canadian Medical Association (CMA) di Canada dan organisasi dokter2 spesialis

    2) Pemerintah (antara lain Dept. of Health) yg. bekerja utk. *kepentingan pasien/rakyat*.

    IDI dimanakah Engkau berpijak ?? di usiamu yang sudah 61, apa yang kau berikan pada kami (dokter indonesia).

     
    Reply
  2. twink

    Saya juga setuju,begitu banyaknya aturan2 yang mengikat seorang dokter. masalah ijin praktek, mengumpulkan skp, str yang katanya nanti untuk memperpanjangnya harus ikut ukdi…

    Saya setuju dengan penulis, apakah nilai seorang dokter tergantung dengan seminar? sebanyak apapun seminar yang diikuti, jika bodoh dokternya ya tetap saja bodoh…

    Saya rasa berkompeten atau tidaknya seorang dokter tidak dapat dinilai dari sebuah ujian saja bukan? Begitu kecilnya nilai seorang dokter jika hanya dinilai dari sebuah ujian kompetensi… Ketrampilan, pengalaman kerja, dan komunikasi itu yang memoles seorang dokter.

    Saya sering melihat dalam kehidupan koas. dokter a bilang teori a, dokter b bilang teori b… satu lulusan univ negri a, satunya lagi lulusan univ b… masing2 menganggap teorinya, pengobatannya, caranya, yang paling benar… Benarkah hal tersebut?

    Kedokteran adalah ilmu yang berdasarkan statistik.. benar atau tidak? Walaupun obat penyakit a adalah obat a, tapi berdasarkan statistik 99,99 % saja.. Adakah penelitian obat yang berani menjamin 100 % bisa menyembuhkan penyakit?

    Masih ada kemungkinan obat b menyembuhkan penyakit a.. Pertanyaanya, apakah penyakit a diberi obat b salah? Tidak salah bukan, karena masih ada kemungkinan 0,1111 % obat b bisa menyembuhkan penyakit a…

    Demikian juga dengan soal2 ukdi… pertanyaan yang paling tepat itu saya rasa bukan sesuatu pertanyaan yang boleh dimasukkan ke dalam soal ukdi, kenapa?

    Menurut univ negri a yang paling tepat adalah jawaban a, menurut univ swasta b yg plg tepat adalah jawaban b, menurut buku karangan c jawaban yg paling tepan adalah c, menurut buku karangan d jawaban yang paking tepat adalah d, menurut prof e jawaban yang paling tepat adalah e…

    Jadi, layakkah sebuah pertanyaan yang paling tepat itu dijadikan sebuah pertanyaan?

    Hanya sebuah masukkan buat idi, janganlah mempersulit hidup dokter yang sekarang… Tahun depan ada lagi OSCE.. Untuk ikut UKDI harus bayar 500rb,

    Pertanyaanya, uang sebanyak itu kemana?? Iuran IDI adalagi, tapi, kemana uangnya? Yang kita dapat hanyalah PR mengumpulkan SKP.. Biaya seminar yang tinggi biayanya… Syndrom steven johnson dibilang malpraktek.. IDI diam saja… Memangnya ada dokter di dunia ini yang dapat meramalkan kejadian syndrom steven johnson?

    Sekedar pendapat dari seseorang yang prihatin dengan nasib dokter Indonesia…

     
    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>