Nunun, Si Komedian Alzheimer

(Berbagi Tulisan, Oleh: Amrizal Muchtar, dimuat di Fajar 15 Juni 2011. Mudah-mudahan bisa menambah ilmu)

Belakangan ini, kembali marak dibicarakan kasus korupsi/suap yang menerpa beberapa pejabat tinggi. Mulai dari kasus Nazaruddin yang terkena kasus suap terhadap Sekjen Mahkamah Konstitusi, kasus hakim Syarifuddin yang diterpa kasus suap dalam proses kepailitan perusahaan garmen PT SCI, dan kasus Nunun Nurbaeti, yang tersandung  kasus suap pemenangan Miranda Goeltoem sebagai deputi senior bank Indonesia  pada tahun 2004.

Sebagian besar tersangka korupsi sering  tiba-tiba mengalami keanehan  saat dipanggil pengadilan. Dari kondisi sehat, tiba-tiba saja mereka mengalami sakit keras. Nazaruddin mendadak sakit jantung dan minta dirawat di Singapura. Nunun tiba-tiba menderita alzheimer, yang juga harus dirawat di Singapura dan Thailand.

Tentu saja masyarakat bertanya-tanya. Apakah benar Nunun yang tadinya sehat-sehat saja tiba-tiba menderita penyakit Alzheimer, suatu penyakit langka yang bersifat mematikan, setelah disangka terlibat dalam suatu kasus hukum? Apakah ini suatu kebetulan atau kepura-puraan belaka?

Apa itu penyakit alzheimer?

Alzheimer ditemukan pertama kali pada tahun 1901 oleh seorang dokter jiwa Jerman bernama Alois Alzheimer. Saat itu seorang pasien nyonya tua bernama Nyonya Auguste D. menderita kehilangan memori jangka pendek. Dia tidak mampu mengingat apa saja yang telah dia lakukan beberapa jam terakhir. Tentu saja hal ini membingungkan sang dokter karena belum pernah ada kasus serupa sebelumnya.

Lima tahun berselang, pada April 1906, pasien tersebut meninggal. Oleh dr. Alzheimer, otak Nyonya Auguste diperiksakan di laboratorium. Ternyata didapatkan kelainan organik di otak tersebut berupa plak amiloid. Diduga kelainan organik ini menjadi penyebab utama gejala pikun berat si pasien. Dari situ, akhirnya dr. Alzheimer mengumumkan adanya penyakit baru dan menamakannya sesuai dengan namanya sendiri.

Alzheimer adalah penyakit gangguan kognitif dan tingkah laku yang cukup berat yang ditandai dengan gangguan dalam interaksi sosial dan kemampuan bekerja. Penyakit ini bersifat jangka panjang dan berlangsung progresif dan susah diobati.

Data statistik penyakit ini di Indonesia tidak tersedia. Di Amerika, ada 4,5 juta orang didiagnosis menderita alzheimer. Jumlahnya diperkirakan meningkat drastis menjadi 13 juta pada 2050.

Alzheimer bukanlah penyakit yang datang tiba-tiba seperti yang dikatakan diderita oleh Nunun. Perjalanan penyakit ini bisa berlangsung selama 30 tahun. Ada 3 fase pembagian perjalanan penyakit alzheimer menurut dunia medis.

Fase pertama yaitu stadium satu atau amnestik yang berjalan dua hingga empat tahun. Pada fase ini muncul gejala gangguan memori ringan atau pikun, gangguan berhitung, dan penurunan aktivitas spontan.

Fase kedua berlangsung selama dua sampai sepuluh tahun. Pada fase ini penderita mengalami disorientasi, gampang bingung, penurunan daya ingat berat, gangguan bahasa, sering tersesat di jalan, dan sering lupa anggota keluarga.

Fase ketiga berlangsung dalam jangka waktu enam sampai sepuluh tahun. Gejalanya sangat berat. Penderita menjadi tidak aktif, malas bergerak, sering membisu, daya intelektual dan daya ingat memburuk, susah mengendalikan buang air besar atau kecil, dan membutuhkan bantuan orang lain dalam aktivitas sehari-hari.

Dari fakta-fakta dan berita yang ada, bisa diduga sangat kecil kemungkinan Nunun menderita Alzheimer. Ibarat dagelan Opera Van Java, Nunun hanyalah seorang ‘komedian’ Alzheimer atau seorang yang berpura-pura menderita penyakit ini.

Ada beberapa hal yang perlu disoroti disini. Yang pertama, kondisi Nunun disertai dengan kepergiannya ke luar negeri yang dilatarbelakangi oleh suatu kasus hukum yang akan membelenggu kebebasannya di dalam negeri. Keterlibatannya dalam kasus suap dalam pencalonan deputi gubernur Miranda Goeltoem pada tahun 2004 diduga membuatnya menghindari proses hukum yang kemungkinan besar akan membuatnya bermukim di penjara.

Yang kedua, kondisi fisik Nunun yang bisa mandiri untuk bisa ke luar negeri tentunya membutuhkan kecakapan atau kemandirian yang lebih. Ini sangat kontras dengan gejala-gejala yang seharusnya ada pada seorang penderita alzheimer. Kalau memang benar dia menderita Alzheimer, harusnya dia sangat membutuhkan sokongan dari suaminya, Adang Darajatun, yang kenyataannya lebih banyak tinggal di Jakarta.

Yang ketiga, di dunia serba materi sekarang ini, apa saja bisa dibeli termasuk surat dokter. Dokter memang sudah disumpah untuk tidak melakukan hal seperti ini. Tapi dokter juga adalah manusia biasa. Seperti halnya hakim yang ternyata banyak yang dihukum. Banyak juga dokter yang moralnya buruk yang tidak mematuhi etika kedokteran yang seharusnya.

Tindakan Nunun berkelit dari proses hukum dengan alasan Alzheimer sangat disayangkan. Secara logika, kalau memang tidak bersalah, kenapa dia tidak berani menghadapi proses hukum. Berani berbuat juga harus berani bertanggung jawab. Bolehlah dia kabur sekarang, tapi tidak mungkin dia bisa lari selamanya. Sekarang posisinya sudah ditetapkan sebagai buronan internasional yang diburu oleh Interpol. Walaupun dia bisa lolos di dunia, tetap saja pengadilan Tuhan akan menunggunya di akhirat.

Alangkah baiknya kalau dia secara ksatria menghadapi kasus ini. Masalahnya tentu akan cepat selesai. Konsekuensi daripada perbuatannya mungkin akan dia jalani. Tapi itulah kehidupan. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.

Organisasi kedokteran seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) seharusnya ikut berperan dalam memeriksa pasien-pasien yang tersandung kasus seperti ini. Jangan mengandalkan hanya kepada seorang dokter, walaupun itu dokter ahli terhebat, untuk memeriksa dan memberikan keterangan yang bisa menghindarkan seorang tersangka dari proses hukum. IDI sebaiknya juga mengambil tindakan proaktif terhadap dokter yang terlibat. Kalau terbukti melanggar sumpah dan etika kedokteran, IDI harus berani memberi sanksi kepada dokter tersebut.

Sebagai kesimpulan, kita bisa menebak apa sebenarnya yang terjadi. Apakah benar Nunun Nurbaeti terkena penyakit yang Alzheimer. Kalau masyarakat mempercayai kebenaran diagnosa tersebut, maka alangkah lucunya negeri ini. Ibarat Nunung OVJ yang setiap hari berhasil bersandiwara di televisi, memainkan peran-peran yang berbeda tiap hari untuk membuat kita tertawa. Tentunya kita tidak mau, Nunun Nurbaeti berhasil bersandiwara dan mengelabui kita sebagai masyarakat.

Kasus korupsi di negara kita makin lama makin banyak yang terkuak. Mudah-mudahan keadilan di Negara ini bisa lebih baik, dengan makin tegasnya penegakan hukum terhadap tersangka koruptor. Ayo KPK dan polisi. Jangan biarkan rasa pesimis rakyat berkembang makin besar terhadap kinerja kalian.

 

dr. Amrizal Muchtar

Makassar

StatPress

Visits today: 154

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>