Melinda, Silikon dan Kecantikan Semu

 

melindaBeberapa bulan lalu, publik  dihebohkan oleh dampak operasi silikon. Saat itu,  dampak tersebut menerpa Melinda Dee, seorang ‘selebritis’ yang terkenal karena kasus pembobolan dana citibank  dengan modus pengaburan transaksi dan pencatatan tidak benar terhadap beberapa slip transfer.

Melinda yang saat ini divonis dengan penjara selama 13 tahun, terpaksa harus dirawat di RS Polri pad Kamis (26/5/2011) akibat radang di payudara. Berdasar hasil pemeriksaan tim dokter Rumah Sakit Polri Kramatjati, Melinda mengalami radang payudara atau sikatrik mammae mastitis. Radang itu diduga muncul lantaran Melinda tak melakukan perawatan silikon selama berada di tahanan. 

Agar radang tak menyebar ke organ lain di tubuhnya, Melinda harus menjalani operasi di bawah pengawasan tim dokter bedah plastik untuk mengeluarkan zat silikon di payudaranya.

–oo–

Teknologi kesehatan sejak abad 20 melambung dengan pesat. Hal ini memunculkan inovasi-inovasi yang sering menjadi “pedang bermata dua”. Di satu sisi, teknologi ini sudah  menyelamatkan jutaan manusia dari kematian. Seperti ditemukannya antibiotik telah berjasa mencegah jutaan manusia dari penyakit dan meninggal dunia. Ditemukannya teknologi anestesi alias obat bius sangat membantu pelaksanaan tindakan bedah.

Di sisi lain, teknologi ini juga mendorong keinginan manusia untuk menjadi lebih baik dan lebih cantik. Didorong oleh naluri persaingan akibat dunia pergaulan  yang tanpa batas, banyak orang terutama wanita berlomba-lomba untuk tampil sempurna. Tidak cukup hanya dengan kosmetik yang supermahal. Kalau perlu, perombakan bentuk tubuh menjadi tidak masalah untuk dilakukan. Resiko yang sudah jelas-jelas ada dibuatkan pembelaan halus. Seakan-akan itu sangat kecil bahkan tidak mungkin terjadi pada dirinya. Mereka yang memutuskan melakukan tindakan medis ini berani mengambil resiko demi mendapat pujaan dan pujian dari lingkungan sekitar.

Salah satu tindakan medis yang sangat populer beberapa tahun terakhir ini adalah Implantasi Payudara alias operasi pembesaran payudara. Implantasi payudara adalah sebuah operasi yang dilakukan dengan memasukkan prostesis (bahan tiruan) untuk mengubah ukuran, bentuk, dan perasaan sebagai wanita, yang bertujuan untuk mengoreksi kelainan dinding dada bawaan lahir, meningkatkan fungsi estetika/keindahan, dan juga  sebagai aspek prosedural pada operasi transgender laki-laki menjadi wanita.

Ada tiga alat yang sering dipakai untuk implantasi payudara. Yang pertama  adalah implan salin. Sebagaimana namanya, implan ini berisi cairan salin(air garam) yang berasal dari bahan organik. Implan ini sangat populer di Amerika pada tahun 1990-an. Ini lebih aman dan alami. Tapi karena secara kosmetik, hasilnya kurang bagus, maka banyak wanita memilih yang kedua yaitu Implan silikon.

Silikon adalah bahan polimer organik yang tidak berwarna dan tidak berbau yang pada awal mulanya digunakan sebagai bahan pembuat lem, katup jantung, dan pelumas. Dikenal tiga macam silikon yaitu silikon padat, cair, dan gel. Oleh banyak penelitian, silikon sering dikategorikan aman untuk perbaikan tubuh karena penolakan jaringan tubuh terhadap zat ini cukup rendah. Biaya yang lebih murah daripada implan salin juga semakin mempopulerkan implan silikon ini.

Yang ketiga adalah implan alternatif yang berisi alternatif cairan lain seperti soy oil, polypropylene string dan lain-lain. Karena jarang yang pakai, maka implan jenis ini tidak diproduksi lagi.

Biaya yang lebih murah dan hasil yang jauh lebih menggoda menyebabkan banyak wanita nekat memilih implan jenis ini. Menurut Plastic Surgery Information Service hampir 170.000 wanita di AS menjalani operasi implantasi payudara sejak tahun 1999. Angka itu meningkat sebesar 26 persen dibanding satu tahun sebelumnya. 

–oo–

Menjadi cantik bukanlah dosa. Malah norma-norma apapun di muka bumi, mulai dari norma kesopanan sampai norma agama sangat menganjurkan manusia untuk menjaga penampilan. Ungkapan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, dan anjuran untuk memberikan senyuman kepada sesama adalah buktinya.

Yang sering jadi masalah adalah standar kecantikan itu sendiri. Sebenarnya kecantikan itu bersifat relatif. Tapi belakangan ini hal itu dilupakan. Berkat media massa dan elektronik yang sangat bombastis mempengaruhi manusia, standar kecantikan manusia bergeser ke satu arah, yaitu standar dunia barat.

Standar dunia barat membatasi kecantikan itu sebagai sosok yang putih/kuning langsat, hidung mancung, postur tubuh tinggi semampai, berdada besar. Standar ini terpatri dengan kuat di benak kaum wanita masa kini. Apalagi iklan-iklan yang bertebaran di media massa dan elektronik semakin memperkuat hal itu.

Akhirnya sejumlah wanita pun kemudian rajin memakai whitening lotion untuk memutihkan kulit supaya menyerupai model dalam iklan layar kaca tersebut. Sebagian rajin mengkonsumsi obat antikolesterol untuk melangsingkan tubuhnya. Bahkan tidak jarang pula yang mengoperasi hidung biar tambah mancung dan memakai implan silikon untuk memperbesar payudaranya. Semua itu dilakukan karena keputihan, kemulusan, dan kemolekan tubuh adalah ukuran kesempurnaan bagi perempuan sekarang untuk disebut cantik dan seksi.

Persepsi inilah yang perlu diubah. Sesungguhnya setiap wanita bisa jadi cantik tanpa harus memakai standar Miss Universe seperti itu. Seluruh manusia diciptakan berbeda-beda secara fisik oleh Tuhan sehingga sangat mustahil untuk menggunakan satu standar untuk keindahan makhluk Tuhan ini.

Kecantikan yang dibuat-buat terutama dengan tindakan mengubah ciptaan Tuhan seperti operasi hidung dan implantasi payudara untuk memenuhi standar cantik ala barat ini sesungguhnya hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak dewasa dan masih labil. Sebagian besar dari mereka  tidak memiliki kepribadian yang baik dan gampang terombang-ambing oleh pengaruh lingkungan.

Ya, bolehlah untuk sekilas, perubahan fisik mereka akan menarik perhatian lawan jenis dan rekan-rekan kerja. Tapi itu hanyalah kecantikan semu. Bukan kecantikan sebenarnya.

Pernah lihat orang bertato? Saya sering mendapati orang tua yang bertato sejak usia muda. Mereka sering mengatakan bahwa mereka menyesal memakai tato ini. Ingin dihilangkan, tapi sudah tidak bisa. Mereka mengaku dulunya menganggap tatto itu keren pada masa itu. Tapi selang waktu, akhirnya berubah pikiran dan menganggap tatto itu malah merusak keindahan tubuh sebenarnya.

Nah, seperti itu jugalah dengan tindakan operasi pengubahan bentuk tubuh seperti implantasi silikon. Kecantikan yang terbentuk hanya semu. Keindahannya hanya bersifat sementara. Malah keindahan itu bisa berubah 180 derajat menjadi buruk rupa ketika efek samping terjadi.

Seperti yang menimpa Melinda kini. Implantasi silikonnya menjadi bocor dan menyebar ke jaringan tubuhnya. Silikon menyebabkan peradangan berat pada payudaranya dan menyebabkan harus diangkat. Kalau sudah begitu, apakah Melinda masih bisa dibilang cantik.

Bagi yang merasa kurang cantik dan berpikir mengambil langkah instan untuk operasi silikon, sebaiknya berpikirlah ulang. Ubahlah persepsi anda tentang kecantikan. Orang Indonesia jangan menggunakan standar kecantikan barat untuk menjadi elok. Anda semua bisa menjadi cantik tanpa perlu rekayasa operasi seperti itu. Anda bisa mendapatkan kecantikan sejati dengan mengoptimalkan apa yang anda miliki sekarang. Anda bisa memakai kosmetika alami dan pembentukan secara alami yang tentu saja jauh lebih sehat.

Dan ingatlah bahwa kesuksesan hidup di dunia ini tidak berkaitan dengan kecantikan fisik. Masih banyak hal lain yang bisa ditonjolkan selain kecantikan fisik. Kecantikan rohani jauh lebih penting dibandingkan kecantikan lahiriah. Kalau anda mengoptimalkan ini, saya yakin kebahagiaan yang anda peroleh bisa lebih lekang dan abadi.

—end

Dr. Amrizal Muchtar

Makassar

StatPress

Visits today: 32

One thought on “Melinda, Silikon dan Kecantikan Semu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>